.

TAZKIA TRAVEL SURABAYA

Tazkia Travel adalah Penyelenggara Perjalanan Umrah dan Haji Plus yang amanah dan Syar'i mengikuti jejak Rosul Muhammad SAW

TAZKIA TRAVEL SURABAYA

Tazkia Travel adalah Penyelenggara Perjalanan Umrah dan Haji Plus yang amanah dan Syar'i mengikuti jejak Rosul Muhammad SAW

TAZKIA TRAVEL SURABAYA

Tazkia Travel adalah Penyelenggara Perjalanan Umrah dan Haji Plus yang amanah dan Syar'i mengikuti jejak Rosul Muhammad SAW

TAZKIA TRAVEL SURABAYA

Tazkia Travel adalah Penyelenggara Perjalanan Umrah dan Haji Plus yang amanah dan Syar'i mengikuti jejak Rosul Muhammad SAW

TAZKIA TRAVEL SURABAYA

Tazkia Travel adalah Penyelenggara Perjalanan Umrah dan Haji Plus yang amanah dan Syar'i mengikuti jejak Rosul Muhammad SAW

TAZKIA - Ensiklopedia Peradaban Islam

Buku Ensiklopedia Peradaban Islam ditulis Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec bersama Tim Tazkia, mengupas tuntas sejarah peradaban Islam dunia secara lengkap dan komprehensif meliputi Makkah, Madinah, Yerusalem, Damaskus, Baghdad, Kairo, Istanbul, Persia, Andalusia, dan Cina Muslim. 10 jilid hard cover, isi + 2.200 hal, kertas matte paper 150gr, berat +15Kg, kemasan eksklusif dilengkapi dengan gambar dan diagram full collor.

TAZKIA TRAVEL SURABAYA

Tazkia Travel adalah Penyelenggara Perjalanan Umrah dan Haji Plus yang amanah dan Syar'i mengikuti jejak Rosul Muhammad SAW

TAZKIA TRAVEL SURABAYA

Tazkia Travel adalah Penyelenggara Perjalanan Umrah dan Haji Plus yang amanah dan Syar'i mengikuti jejak Rosul Muhammad SAW

TAZKIA TRAVEL SURABAYA

Tazkia Travel adalah Penyelenggara Perjalanan Umrah dan Haji Plus yang amanah dan Syar'i mengikuti jejak Rosul Muhammad SAW

TAZKIA-Ensiklopedia Leadership dan Manajemen Muhammad SAW

Sebuah buku Siroh Revolusioner yang mengkaji Sejarah Hidup Nabi Muhammad SAW dengan cara Tematik Ilmiah dan Komprehensif serta dipadukan dengan Kajian Ilmu Manajeman dan Leadership Kontemporer. “…dari sekian buku tentang Rasulullah Saw, buku ini termasuk yang paling istimewa. Selamat mengenal, mengikuti, dan mencintai Rasulullah Saw.” (Yusuf Mansyur, Wisata Hati)

TAZKIA-Labbaik Allahumma Labbaik

Ya Allah, karuniakan kepada-ku kemampuan untuk memenuhi Panggilan-MU, Masukkan Aku kepada golongan Hamba-hamba-Mu yang Ikhlas.

Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 April 2013

Peresmian Cabang Tazkia Kawasan Indonesia Timur

Berangkat dari sebuah visi besar menjadi  rahmat bagi seluruh alam, lahir sebuah gagasan baru beberapa hari menjelang penyambutan tahun baru 2013 M dan ditengah arus perubahan Sulawesi Selatan. �Memasuki Rumah Baru� sekaligus peresmian kantor baru (PT Tazkia Tours & Travel cabang Makassar� menjadi saksi atas arus perubahan yang terjadi di Kota Makassar dan sekitarnya. Persaingan dua calon Gubernur Sulawesi Selatan periode 2013-2018  di sisi lain sedang menanti  perubahan besar yang akan menentukan pilihan antara �Sayang dan Semangat Baru�.
Alhamdulillah setelah melalui pemilihan pada tanggal 22 Januari 2013 masyarakat kini telah menentukan pilihannya, Sayang alias Sahrul Yasin Limpo terpilih sebagai gubernur baru. Meski demikian persaingan yang begitu ketat dengan menyisakan sedikit selisi antara kedua kubu menunjukkan bahwa ada sebagian besar masyarakat Sulawesi selatan juga menghendaki perubahan dengan semangat baru. Berapapun jumlahnya tidaklah terlalu penting karna bisa jadi jumlah yang sedikit akan mengalahkan jumlah yang besar asalkan memiliki ketangguhan mental dan keyakinan yang tinggi.


 �Semangat baru�  yang tadinya  merupakan jargon salah satu kandidat pilgub sulsel justru kini hadir dalam elemen terkecil masyarakat yang bernama Keluarga.   H. Sultan Muhiddin,SH seorang  yang berkiprah lewat bisnis fashion yang akhirnya merambah pada usaha properti  kini berhasil menghadirkan semangat baru dalam lingkup keluarganya. Putra bugis yang mempersunting HJ. Ernawati  putri asli betawi  20 tahun silam di Wisma DPR Kalibata Jakarta ini merayakan ulang tahun pernikahannya tepat pada tgl 7 Februari 2013 .  Alhamdulillah semangat baru terasa hadir dalam lingkungan keluarga karena selain ajang silaturrahiim juga pada hari yang sama dirangkai dengan Memasuki Rumah Baru, Peresmian PT.TAZKIA Tours & Travel cabang Makassar dan Silaturrahiim Emas yakni Seminar yang mengulas tentang bagaimana membangun Bisnis berbasis Emas.

� Puji syukur kehadirat Allah SWT karna diusia pernikahan kami yang ke 20 tahun ini Allah berkenan menitipkan rezki kepada kami sehingga dapat membangun  rumah untuk  setiap wanita hebat yang telah berjasa dalam hidup saya. Berkat do�a dari orang tua, sanak keluarga dan mitra-mitra bisnis saya, kini   istri, dan ketiga putri saya sudah memiliki rumah masing-masing. Alhamdulillah rumah ini saya bangun atas jeripayah sendiri dan tanpa menggunakan jasa kredit dari Bank. � Ungkapan rasa syukur tersebut senantiasa mengalir dari lisan beliau dengan semangat yang senantiasa menyala tatkala berbicara baik dalam keadaan formal ataupun dalam keadaan santai.
Upacara peresmian Pembukaan cabang PT.TAZKIA Tours & Travel cabang makassar dihadiri oleh Direktur PT.TAZKIA Pusat Jakarta Bapak Prana Tandjudin,SH,MM.,  Owner Bumi Arasy Logam Mulia Nusantara Bapak Ir. H.Haryanto Suryo Panguripan,  Kepala Kantor DEPAG Kota Makassar H. Wahid,, SH,MH, dan segenap aparatur pemerintah serta keluarga Besar H.Sultan Muhiddin dari berbagai daerah di Indonesia berbaur menyatu dalam suka cita layaknya satu keluarga besar sejak kedatangan mereka tgl 5  s.d. 8 Februari 2013, Hal ini menunjukkan betapa kuat ikatan silaturrahim yang telah ditebar dan ditanam selama rentangan perjalanan usian H.Sultan.  Seorang sosok yang mampu menyatukan keluarga bak kekuatan magnet dari berbagai lapisan tanpa merasakan adanya pembatas antara kaya dan miskin.
PT.Tazkia merupakan perusasahaan jasa pelayanan Haji Plus & Umrah didirikan oleh Bapak Ust.DR. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec.  Kehadiran PT.TAZKIA cabang Makassar  memberi  semangat dan harapan baru bagi peyelenggaraan Haji dan Umrah yang kompetitif dan berkuwalitas di kawasan Timur Indonesia. Reputasi  Ust.DR.M. Syafii Antonio, M.Ec. secara nasional dan Internasional sebagai pakar ekonomi Syariah telah mengantarkan PT.TAZKIA berkembang pesat dan semakin dipercaya oleh masyarakat luas sebagai penyelenggara Haji & Umrah yang menerapkan prinsip-perinsip Islam dalam pelaksanaan Haji & Umrah sejak 10 tahun terakhir. Atas dasar itu pula akhirnya mengantarkan PT.TAZKIA dipercaya oleh beberapa praktisi bisnis di daerah untuk mengembangkan cabang di beberapa daerah diseluruh Indonesia.
Inilah alasan utama mengapa H. Sultan Muhiddin, SH seorang praktisi bisnis yang selama ini dikenal dikalangan keluarga dan mitra-mitra bisnisnya sebagai pribadi yang teguh dalam prinsip-prinsip kejujuran dan keberpihakan terhadap kebenaran dan keadilan tidak ragu menyambut kerjasama  dengan TAZKIA Tours & Travel, demikian pula sebaliknya PT.TAZKIA, meski survey dilakukan hanya satu kali kunjungan ke Makassar, namun langsung mengambil keputusan untuk menunjuk H.Sultan Muhiddin, SH sebagai Cabang Perwakilan untuk kawasan Timur Indonesia. Hal tersebut tidak lain karna kesamaan visi dan prinsip-prinsip kerja yang berorientasi pada ibadah kepada Allah dalam bermuamalah lewat penyelenggaraan haji & Umrah dengan pelayanan prima serta amanah, Insya Allah.

Kamis, 01 April 2010

Menuju Sidratul Muntaha

Etape pertama Rasulullah saw adalah perjalanan horisontal dari Mekkah ke Palestina. Dari apa yang saya uraikan di bagian depan, perjalanan itu hanya ditempuh Nabi dalam waktu tidak sampai 1 detik. Kenapa bisa secepat itu? Karena Nabi Muhammad, Jibril dan Buraq melesat dengan kecepatan cahaya, 300.000 km/detik. Maka, jarak Mekkah Palestina yang hanya sekitar 1.500 km itu pun tidak terlalu berarti bagi mereka.
Sesampai di masjidil Aqsha, Rasulullah saw sempat melakukan shalat bersama malaikat Jibril, sebelum kemudian melanjutkan perjalanan ke langit ke tujuh. Perjalanan berikutnya adalah sebuah perjalanan yang memiliki mekanisme berbeda dengan etape pertama.
Pada etape pertama, Rasulullah saw melakukan perjalanan dengan badan wadag yang telah diubah menjadi badan cahaya. Akan tetapi sesampai di masjidil Aqsha badan Nabi telah berubah kembali menjadi badan material sebagaimana sebelumnya. Ini adalah etape teleportasi, sebagaimana digambarkan dalam berbagai film science fiction. Akan tetapi pada etape kedua, beliau tidak lagi menggunakan mekanisme tersebut melainkan melakukan perjalanan dimensional.
Ini adalah bagian yang sangat abstrak dan agak rumit dijelaskan. Akan tetapi, dengan berbagai perumpamaan dan analogi, mudah-mudahan pembaca bisa mengikuti apa yang akan saya sampaikan di bagian-bagian berikut ini.
Ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab berkaitan dengan perjalanan menuju langit ke tujuh ini. Untuk menghindari kesalah pahaman, maka kita harus menyamakan dulu persepsi tentang beberapa hat. Di antaranya adalah hal-hal berikut ini.
1. Apakah yang disebut langit?
2. Di langit manakah Bumi kita berada?
3. Apa dan bagaimanakah langit berlapis tujuh?
4. Bagaimana Rasulullah saw bisa melakukan perjalanan menembus, langit satu sampai ke tujuh?
5. Apakah yang terjadi ketika berada di Sidratul Muntaha?

MEMAHAMI LANGIT
Banyak di antara kita yang memiliki persepsi berbeda tentang langit. Ada yang berpendapat bahwa langit adalah sebuah �atap� alias bidang pembatas ruang angkasa. Artinya, mereka mengira bahwa ruang di atas kita ada pembatasnya, semacam atap. Kelompok pertama ini, biasanya adalah mereka yang awam tentang ilmu Astronomi.
Kelompok kedua adalah mereka yang mengikuti berbagai macam informasi tentang angkasa luar dari berbagai film-film fiksi ilmiah, ataupun berbagai macam media massa. Pada umumnya mereka mengerti bahwa yang dimaksud langit adalah sebuah ruang raksasa yang berisi triliunan benda-benda langit, seperti matahari, planet-planet (termasuk Bumi), bulan, bintang, galaksi, dan lain sebagainya. Mereka memperoleh pemahaman yang lebih baik bahwa langit bukanlah sebuah bidang batas, melainkan seluruh ruang angkasa di atas kita.
Kelompok yang ketiga adalah mereka yang mempelajari informasi Astronomi lebih banyak dan lebih detil. Lebih jauh, mereka mencoba memahami berbagai hal yang berkait dengan struktur langit lewat berbagai teori-teori Astronomi. Mereka terus-menerus mengikuti berbagai informasi dan mencoba melakukan rekonstruksi terhadap struktur langit, yang secara umum dipahami sebagai alam semesta atau Universe.
Nah, dari ketiga kelompok pemahaman itu saya ingin mengambil kesimpulan yang bersifat global saja, sebagai pijakan awal pemahaman kiia tentang langit. Bahwa yang disebut langit sebenarnya bukanlah sebuah bidang batas di angkasa sana, melainkan sebuah ruang tak berhingga besar yang memuat triliunan benda-benda angkasa. Mulai dari batuan angkasa yang berukuran kecil, satelit semacam bulan, planet-planet, matahari dan bintang, galaksi hingga superkluster.
Karena itu, jika kita bergerak ke langit naik pesawat angkasa luar, misalnya, maka kita akan bergerak menuju ruang angkasa yang tidak pernah ada batasnya. Sehari, seminggu, sebulan, setahun dan seterusnya kita bergerak ke angkasa, maka yang kita temui hanya ruang angkasa gelap yang berisi berbagai benda langit saja. Sampai mati pun, kita tidak akan pernah menemukan pembatasnya. Ya, langit adalah ruang angkasa yang luar biasa besarnya. Bahkan, tidak diketahui dimana tepinya.
Nah, pemahaman tentang langit ini penting untuk menyamakan persepsi kita tentang perjalanan Mi�raj Rasulullah saw. Sebab, dalam pemahaman tradisional selama ini, kita memperoleh kesan betapa langit itu digambarkan sebagai atap alias �langit-langit�. Bahkan digambarkan pula sebagai atap yang ada pintu-pintunya, yang kemudian mesti dibuka sebagaimana pintu rumah, ketika Rasulullah saw mau memasuki langit yang lebih tinggi.
Istilah langit dalam bahasa Inggris, barangkali memberikan gambaran yang lebih jelas: Sky. Dalam bahasa Indonesia lebih pas disebut sebagai �Angkasa�. Istilah lainnya adalah space. Sehingga, angkasa di luar Bumi disebut sebagai Outer Space. Jadi langit adalah Ruang Angkasa.
Pemahaman tentang langit adalah pemahaman yang cukup rumit. Apalagi jika dikaitkan dengan struktur langit yang tujuh. Untuk langit pertama saja, tidaklah mudah. Bahkan sampai sekarang ilmu Astronomi masih menemui berbagai kendala yang agak rumit dalam mempersepsi struktur alam tersebut. Akan tetapi, Insya Allah semuanya berangsur-angsur bisa dijelaskan.
Di dalam Al-Qur�an, Allah secara jelas dan berulangkali menginformasikan bahwa langit yang Dia ciptakan itu memang bukan hanya satu, melainkan 7 lapis, sebagaimana diinformasikan dalam ayat berikut ini.
QS. At Thalaq (65): 12 � Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula Bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.�
QS. Al Mulk (67): 3 � Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?�
Dan masih ada beberapa ayat lagi yang bercerita tentang langit yang tujuh. Cuma, kita mesti mencermati penggunaan kata langit (assamaa� dan assamaawaat � tunggal dan jamak). Kata-kata ini ternyata digunakan oleh Allah untuk menggambarkan ruang di atas Bumi, baik yang berarti atmosfer, maupun yang berarti angkasa luar.
Penggunaan kata langit yang bermaksud untuk angkasa luar, misalnya adalah yang terdapat dalam ayat-ayat di atas. Dan juga ayat berikut ini.
QS Fushilat (41): 12 � Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.�
Di ayat tersebut tergambar jelas sekali bahwa Allah menggunakan kata as samaawaat untuk menggambarkan angkasa luar. Kenapa ada kesimpulan begitu? Karena Dia menggambarkan bahwa langit yang dekat dihiasi dengan bintang-bintang. Dan kita tahu semua bahwa bintang-bintang itu bukan terdapat di atmosfer, melainkan di ruang angkasa.
Maka, ketika Allah bercerita tentang langit yang tujuh di ayat tersebut, langit yang dimaksudkan adalah langit alam semesta yang jumlahnya 7 tingkat.
Akan tetapi, di ayat-ayat yang lain Allah menggunakan kata-kata assamaa� dan assamawaat untuk menggambarkan atmosfer Bumi. Hal itu, misalnya, terdapat pada ayat-ayat berikut ini.
QS. Al Baqarah (2): 29 � Dia lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di Bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.�
Di situ digambarkan betapa Allah menciptakan segala, sesuatu di Bumi untuk manusia. Kemudian Dia memproses langit yang tujuh. Di ayat ini Allah menggunakan kata �langit�, untuk atmosfer. Kenapa demikian, karena langit tersebut ternyata diproses setelah Bumi terbentuk.
Jika yang dimaksudkan adalah langit alam semesta, hal itu menjadi tidak cocok. Karena sesungguhnya proses terbentuknya langit semesta lebih dulu dibandingkan dengan Bumi. Planet Bumi adalah bagian dari langit semesta, disamping miliaran matahari dan triliunan planet yang ada.
Ayat lain yang menunjukkan �langit� sebagai atmosfer terdapat pada ayat-ayat berikut ini.
QS. Ruum (30): 48 �Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan ke luar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba Nya yang dikehendaki Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira.�
Karena �langit� di sini dikaitkan dengan hujan, kita lantas bisa mendapatkan gambaran bahwa yang dimaksudkan adalah atmosfer. Maka, ketika Allah menyebutkan bahwa langit tersebut ada tujuh, orientasi pemahaman kita menuju kepada lapisan-lapisan atmosfer yang memang ada tujuh lapis, yaitu: Troposfer, stratosfer, ozonosfer, mesosfer, ionosfer, eksosfer, dan magnetosfer.
Pemakaian kata �langit� untuk dua hal yang berbeda ini seringkali membingungkan mereka yang kurang akrab dengan masalah astronomi. Mereka rancu menyamakan antara atmosfer dengan langit ruang angkasa.
Hal itu, misalnya, terlihat dari pemahaman mereka terhadap ayat ayat berikut ini.
QS. Al Baqarah (2): 22 "Dialah Yang menjadikan Bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.� QS. Al anbiyaa (21): 32  � Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya.�
Ayat-ayat di atas menceritakan bahwa langit berfungsi sebagai atap. Hal ini memang cocok dengan fungsi atmosfer sebagai pelindung Bumi. Keberadaan atmosfer telah melindungi Bumi dari �serangan� batu-batu langit yang setiap hari berjatuhan ke arah Bumi. Batu-batu yang masuk ke atmosfer Bumi telah dihadang olehnya, untuk kemudian dibakar oleh gesekan udara yang memiliki kecepatan putar lebih dari 1600 km per jam. Jadi dalam hal ini, atmosfer telah berfungsi sebagai atap yang melindungi Bumi.
Persoalannya menjadi lain ketika kita berbicara tentang langit yang bukan atmosfer. Karena langit angkasa luar tersebut berupa ruang yang sangat besar, berisi triliunan benda langit. Bukan berupa lapisan-lapisan udara seperti yang terdapat dalam atmosfer kita.
Maka, ketika Allah menyebutnya sebagai berlapis tujuh, cara pemahamannya berbeda dengan memahami atmosfer Bumi. Disinilah banyak yang terjebak pada pemahaman yang rancu antara keduanya.
Kerancuan itu, misalnya, terlihat dari pemahaman langit sebagai atap. Banyak beredar pemahaman di kalangan umat Islam, katanya, langit alam semesta ini berbentuk atap, sebagaimana dijelaskan pada ayat-ayat di atas. Padahal penjelasan itu terkait ke langit atmosfer. Bukan langit semesta.
Sehingga, tafsir yang muncul terhadap langit berlapis tujuh itu menjadi begitu sederhana dan naif. Bahwa, langit alam semesta dipersepsi bertumpuk-tumpuk seperti kue lapis. Lapis pertama adalah langit pertama, lapis kedua adalah langit kedua dan seterusnya sampai langit yang ke tujuh.
Hal ini tentu saja tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Dan bisa menjadi bahan olok-olok yang tidak mengenakkan hati dari orang-orang yang tidak suka kepada Islam. Tentu, kita harus memberikan penafsiran yang lebih proporsional, sesuai kenyataan ilmiah.

LANGIT PERTAMA
Barangkali kita telah sepaham, bahwa yang disebut langit adalah �ruang� tak berhingga besar yang terhampar di atas kita. Baik bagi kita yang berada di Indonesia, maupun yang di balik Bumi Indonesia, yaitu di Amerika. Sekali lagi langit adalah ruangan raksasa yang berisi triliunan benda langit seperti planet, bulan, meteor, matahari, nebula, galaksi, superkluster, dan lain sebagainya. Termasuk Bumi kita ini berada di dalam langit. Jadi langit adalah �ruang angkasa�.
Nah, Allah menginformasikan di dalam Al Qur�an bahwa langit itu ada tujuh tingkat. Langit yang pertama adalah langit yang dihuni oleh manusia dan makhluk-makhluk berdimensi 3, seperti binatang, tumbuhan dan benda-benda mati, yang terdapat di planet Bumi. Ditambah lagi, segala benda langit yang mengisinya. Itu semua adalah makhluk di langit pertama. Langit pertama itu di dalam istilah agama disebut sebagai �Langit Dunia�.
Allah telah memberikan gambaran yang menarik di dalam Al Qur�an, tentang langit Dunia itu.
QS. Fushshilat (41): 12
Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
Artinya, seluruh ruang angkasa yang berisi triliunan bintang, matahari, galaksi, nebula, meteor, dan segala benda langit termasuk Bumi itu, oleh Allah disebut sebagai langit Dunia. Kata �Dunia� memiliki arti �dekat�. Jadi, maknanya menjadi langit yang dekat.
Padahal sebagaimana kita tahu, bahwa langit yang disebut �dekat� oleh Allah itu bukanlah jarak yang dekat bagi manusia. Saya sudah pernah menyampaikan bahwa jarak bintang yang terdekat saja membutuhkan waktu 428 tahun untuk datang ke sana. Itu pun kalau kita menggunakan pesawat tercepat milik manusia, misalnya Challenger, atau Columbia yang berkecepatan 20.000 km per jam.
Kalau kita menggunakan kecepatan yang lebih tinggi, katakanlah cahaya sebagai kecepatan puncak di alam semesta ini waktu tempuhnya juga masih sangat lama, yaitu butuh waktu 8 tahun, baru sampai di bintang terdekat itu. Apalagi untuk menuju bintang-bintang yang lebih jauh. Ada yang membutuhkan waktu sejuta tahun. Ada pula yang memerlukan waktu 1 miliar tahun. Bahkan yang terjauh bisa membutuhkan waktu 10 miliar tahun!
Jadi, Langit Dekat itu, bukanlah langit yang kecil dan gampang kita tempuh. Usia kita yang cuma puluhan tahun ini tidak berarti apa-apa untuk menempuh jarak antar bintang. Apalagi untuk mengembara dan mengarungi alam semesta. Sama sekali tidak mungkin!
Padahal kita sudah menggunakan sebuah cara yang juga mustahil�, yaitu naik pesawat dengan �kecepatan cahaya�. Kenapa tidak mungkin? Karena sungguh, tidak ada benda apa pun di alam semesta yang bisa dipercepat mencapai kecepatan cahaya. Benda tersebut bakal hancur, semburat menjadi partikel-partikel kecil sub atomik. Secara lebih detil, akan saya jelaskan pada bagian lain.
Ada juga yang tidak percaya dan mempertanyakan: apakah betul kecepatan tertinggi di alam semesta ini adalah cahaya? Ya, begitulah sains menbuktikan. Memang ada semacam �angan-angan� dan harapan dari beberapa kalangan supaya di alam semesta ini ada kecepatan yang lebih tinggi dari cahaya, supaya mereka bisa menjelaskan beberapa hal yang muskil.
Akan tetapi, sampai sekarang keinginan itu tidak pernah bisa dibuktikan. Kecepatan tertinggi di alam semesta sampai sekarang, tetap adalah kecepatan cahaya, yaitu 300.000 km per detik. Maka seluruh penjelasan tentang gerak di alam semesta ini masih harus berpatokan pada kecepatan cahaya tersebut. Sehingga, perhitungan relativitas waktu pun masih diukur dengan kecepatan cahaya.
Jadi, kembali lagi kepada alam semesta, ternyata alam semesta kita ini memang demikian besarnya. Diperkirakan diameternya mencapai 30 miliar tahun cahaya. Artinya, jika cahaya mencoba menyeberangi alam semesta. dari tepi kiri menuju tepi kanan, ia butuh waktu selama 30 miliar tahun! Sungguh sebuah ukuran yang sangat besar!
Apalagi manusia. Jika manusia menyeberangi alam semesta dengan menggunakan pesawat ulang alik berkecepatan 20 km per jam, maka waktu yang diperlukannya adalah sekitar 1,62 miliar miliar tahun, alias 1,62 dengan sepuluh pangkat 18 tahun. Sebuah hal yang sangat muskil dilakukan oleh manusia!
Diperkirakan alam semesta ini memuat partikel sejumlah 10 pangkat 81, yang tersebar di seluruh penjuru langit. Di antaranya, yang terbanyak adalah yang berada di pusat alam semesta. Yang lain tersebar dalam bentuk benda-benda langit dan debu angkasa. Termasuk, partikel-partikel pembentuk matahari, bintang, nebula, dan planet Bumi.
Secara sederhana, alam semesta ini boleh diumpamakan seperti sebuah bola raksasa yang memuat triliunan benda langit. Mulai dari yang terkecil, debu-debu angkasa, batu meteor, batu komet, batu asteroid, satelit, planet, matahari, bebagai jenis bintang-bintang, galaksi, sampai yang terbesar, super cluster.
Seluruh benda langit itu membentuk sistem saling tarik-menarik dan saling �mengikat� lewat gaya gravitasi. Coba bayangkan, ada triliunan kelereng yang sedang mengambang di awang-awang. Triliunan benda itu semuanya bergerak. Tidak ada yang diam! Dan �sedikit� sekali terjadi tabrakan, terutama pada kelereng-kelereng yang berukuran besar. Karena masing-masing kelereng itu memiliki lintasan geraknya masing-masing. Kecuali benda-benda langit yang bergerak bebas dan tidak memiliki lintasan orbit.
Kita melihat sebuah �demonstrasi� kekuatan yang Maha Dahsyat, yang mengatur keseimbangan gerakan itu. Jika tidak, maka sungguh seluruh benda langit itu akan saling bertabrakan, dan menjadi kacaulah langit kita.
Akan tetapi, yang terjadi bukan begitu. Meskipun sudah berlangsung selama 12 miliar tahun, benda-benda langit itu bergerak secara harmonis. Benda-benda langit yang berukuran besar, memiliki dua jenis gerakan. Gerakan pertama adalah gerakan berputar pada dirinya sendiri, yang dikenal sebagai gerakan rotasi. Sedangkan gerakan kedua adalah gerakan melingkari benda yang lebih besar dari dirinya, yang dikenal sebagai gerakan revolusi.
Jadi bisa kita bayangkan, betapa benda yang paling kecil adalah benda yang paling �pusing�. Ambillah contoh, Bulan. Bulan adalah satelit Bumi. la berputar pada dirinya sendiri. Selain itu, ia juga mengitari Bumi pada lintasan orbitnya yang berjarak sekitar 1 menit cahaya alias sekitar 18 juta km dari Bumi.
Lintasan itu memiliki pola yang tetap. Sehingga pergerakan Bulan bisa dihitung secara akurat oleh manusia. Katakanlah, waktu terjadinya gerhana Bulan. Manusia telah bisa memperkirakan kapan bakal terjadi gerhana Bulan di tahun tahun mendatang. Karena itu, pergerakan bulan ini bisa dijadikan patokan penanggalan alias kalendar. Termasuk kalendar Hijriyah yang digunakan oleh umat Islam. Satu kali perputaran Bulan mengelilingi Bumi membutuhkan waktu 29,5 hari.
Bukan hanya bulan yang bergerak, tetapi juga Bumi. Planet yang memuat sekitar 5 miliar manusia ini berputar pada dirinya sendiri. Satu kali rotasi menghabiskan waktu 24 jam alias sehari. Selain itu juga berputar mengelilingi matahari dalam kurun waktu 365,25 hari, satu kali putaran, yang disebut sebagai setahun.
Maka kita melihat di sini, bahwa bulan mengelilingi Bumi pada periode tertentu, dengan cara tertentu. Dan kemudian, Bumi bersama Bulan, mengelilingi matahari pada periode tertentu dengan cara tertentu pula.
Nah, apakah Matahari juga bergerak seperti itu? Ternyata ya. Matahari yang menjadi pusat pergerakan sembilan planet termasuk Bumi ini, ternyata juga bergerak berotasi dan berevolusi. Selama sekitar 5 miliar tahun Matahari bergerak berirama bersama kesembilan planet, yaitu Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, dan Pluto; mengelilingi sebuah Bintang yang berukuran sangat besar yang berada di pusat Galaksi Bima sakti.
Galaksi Bima Sakti beranggotakan sekitar 100 miliar matahari. Kesemuanya berputar mengelilingi pusat galaksi yang berbentuk cakram. Bumi dan tatasurya kita terletak di salah satu wilayah agak ke pinggir dari cakram tersebut.
Maka, Dalam satu galaksi ini saja kita bisa �melihat� betapa ada bermiliar-miliar benda langit yang sedang bergerak dalam sebuah irama yang sangat harmonis. Ratusan miliar matahari, dan triliunan planet, asteroid, satelit, serta berbagai batu angkasa sedang �menari-nari� dalam komposisi irama galaksi Bima Sakti yang sangat mengagumkan.
Namun, dari data Astronomi juga diketahui bahwa jumlah galaksi di alam semesta ini ternyata sangatlah banyak., Bisa mencapai ratusan miliar galaksi. Bahkan boleh jadi triliunan. Setiap saat, para ahli astronomi bisa menemukan sejumlah gugusan bintang alias galaksi lewat teleskop Hubble atau Spitzer atau Compton.
Ternyata, bukan hanya matahari atau bintang-bintang yang bergerak secara berirama dalam satu gugusan. Melainkan, galaksi-galaksi itupun bergerak berotasi dan revolusi mengelilingi sebuah galaksi yang sangat besar. Tidak kurang dari 100 miliar galaksi diperkirakan bergerak berirama membentuk gugusan galaksi yang disebut Supercluster. Lagi-lagi kita melihat sebuah orchestra alam semesta yang luar biasa dahsyatnya, dalam sebuah parade triliunan matahari yang �menari-nari� dengan cantik sekali.
Sampai disinikah besarnya alam semesta? Ternyata tidak. Gerakan-gerakan berputar dan berirama itu terus membesar, membesar dan membesar. Dari Bulan mengelilingi Bumi, kemudian mengelilingi Matahari, lantas mengelilingi pusat galaksi, dan berevolusi mengitari pusat Supercluster, diperkirakan masih terus membentuk gugusan gugusan yang lebih besar yang belum ketahuan tepinya. Meskipun, para. ahli menyimpulkan alam semesta ini besarnya terbatas pada diameter 30 miliar tahun cahaya. Tapi, disinilah manusia mulai merasakan situasi �kritis� atas pemahamannya terhadap alam semesta. Mereka dihadang oleh sebuah �Kekuasaan� dan �Kecerdasan� yang Sangat Misterius, yang sedang menggelar sebuah Orkestra Maha Dahsyat dalam skala yang tidak terbayangkan �
__________________________________
Sumber : Dudung.Net � Penulis : Firlian Putri